|
Motor V: Dari Geng Nero Hingga Brigez |
|
Written by suminta
|
|
Jun 16, 2008 at 07:26 PM |
Oleh : Iwan Piliang
KETIKAmenulis judul motor untuk pertama pada 1 April 2008 lalu: http://presstalk. info/tajuk/ detail.php? no=55. saya tidak membayangkan akan berlanjut terus menulis tajuk berjudul motor. Akan tetapi ada saja momen di mana judul motor, laksana mata air pegunungan, terus-terusan mengalirkan ide, membuat tangan memencet keyboard komputer untuk, lagi-lagi, kembali menulis topik motor. Kendati sudah bagian lima, topik motor saya perkirakan akan berlanjut entah sampai ke muara berapa.
SIANG di Gang Cinta, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Timur. Gambar video di telepon genggam warga Pati menggemparkan. Ada seorang gadis pelajar SMP berkaus merah diminta berdiri, mengangkat tangan kanan memberi hormat macam tentara.
|
|
Read more...
|
|
|
Written by suminta
|
|
Jun 16, 2008 at 07:24 PM |
Oleh : Iwan Piliang
DARI arah Rumah Sakit Hasan Sadikin menuju tol Pasteur, Bandung, Selasa, 10 Juni 2008 lalu. Menjelang Bandung Trade Centre (BTC), tepatnya di Jl. Djunjunan 131, ada sebuah kedai yogurt bermerek Odise. Letaknya seakan menyempil di sebelah kedai ikan bakar Indramayu.
Ada spanduk hijau di situ bertuliskan: Odise French Yogurt. CEO Zamrud Technology, Hemat Dwi Nuryanto, yang menemani saya membelokkan mobil berjalan ke arah belakang BTC. Kami memasuki sebuah rumah berukuran sedang, menemui Valerie Erawan, sosok perempuan berjilbab kelahiran Poitiers, Perancis, pembuat Odise. |
|
Read more...
|
|
|
Written by suminta
|
|
Jun 03, 2008 at 06:16 PM |
Sabtu, 31 Mei 2008
SABTU pekan lalu saya mampir ke Roemah Daun, sebuah tempat yang menyempil di kiri jalan arah ke Kuningan, Casablanca, dari arah Sahardjo, Jakarta Selatan. Persis di ujung pemakaman, menyempil kios menjual aneka tanaman, terutama aneka Anthurium, berikut berbagai pupuk. Lebaran tahun lalu berbagai Anthurium, mulai dari jenis gelombang cinta (wave of love), hingga cobra, yang sudah berukuran besar sempat dicuri orang. Kerugian Roemah Daun yang memiliki tag line: Relawan Hutan Indonesia, itu mencapai Rp 500 juta.
Dalam tiga tahun terakhir ini harga anthurium memang menggila. Anakan gelombang cinta, yang tergolong jenis rata-rata murah, dengan lima helai daun selebar ujung jari kelingking sudah di atas Rp 25 ribu/pot. Padahal pada 1998, gelombang cinta berdaun selebar telapak tangan, hanya saya beli Rp 15 ribu/ per pot. Kala itu saya membeli tiga pot di saat pameran flora dan fauna yang rutin diadakan setiap tahun di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Previous 1 2 3 Next > End >>
|